Jumat, 28 Juni 2013




MAKALAH KESEHATAN REPRODUKSI 

BAHAYA MEROKOK TERHADAP KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA AKHIR
 Dosen Pengampu : Widyah Setyowati S.SiT


Disusun Oleh :

LINA FATHMA
(121150)



BAB I

PENDAHULUAN
  
A.    Latar Belakang
      Kesehatan reproduksi adalah keadaan kesejahteraan fisik, mental, dan social secara lengkap dan bukan hanya adanya penyakit atau kelemahan, dalam segala hal yang berhubungan dengan system reproduksi dan fungsi-fungsi serta prosesnya. Menurut Departemen Kesehatan RI yaitu suatu keadaan sehat secara menyeluruh mencakup fisik, mental dan kedudukan sosial yang berkaitan dengan alat, fungsi serta proses reproduksi dan pemikiran kesehatan reproduksi bukan hanya kondisi yang bebas dari penyakit, melainkan juga baigaimana seseorang dapat memiliki seksual yang aman dan memuaskan sebelum dan sesudah menikah.
Sedangkan kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi yang sehat yang menyangkut system, fungsi, dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Kesehatan Reproduksi Remaja didefinisikan sebagai suatu keadaan sehat jasmani, psikologis, dan sosial yang berhubungan dengan fungsi dan proses sistem reproduksi pada remaja. Pengertian sehat tersebut tidak semata-mata berarti terbebas dari penyakit atau permasalahan, namun juga sehat secara mental serta sosial-kultural. Pada masa ini seorang anak mengalami kematangan biologis. Kondisi ini dapat menempatkan remaja pada kondisi yang rawan bila mereka tidak dibekali dengan informasi yang benar mengenai proses reproduksi serta berbagai faktor yang ada di sekitarnya.

B.     Rumusan Masalah
*      Pengertian kesehatan reproduksi
*      Pengertian tentang remaja
*      Apa yang dimaksud dengan remaja dalam konsep kesehatan reproduksi
*      Dampak permasalahan remaja tentang merokok yang mempengaruhi kesehatan reproduksi remaja tersebut

C.     Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu :
Untuk mengetahui dampak dari bahaya merokok terhadap kesehatan reproduksi pada remaja akhir

D.    Metode Penulisan
1.      Literatur
Cara pengumpulan data dengan cara study pustaka sesuai dengan sumber-sumber yang ada dan yang terkait dengan kompetensi kebidanan.
2.      Internet
Cara pengumpulan data dengan membuka beberapa website / alamat situs.
3.      Referensi ( Kepustakaan )
Cara pengumpulan data dengan mengumpulkan data dari buku pedoman yang berhubungan dengan materi yang dibahas.

E.     Manfaat Penulisan
Manfaat yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini yaitu :
*      Penulis mendapatkan pengetahuan dan pemahaman tentang salah satu masalah remaja mengenai dampak merokok bagi kesehatan reproduksi remaja akhir
*      Pembaca memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang salah satu masalah remaja mengenai dampak merokok bagi kesehatan reproduksi remaja akhir










BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian

a)      Kesehatan reproduksi.
Kesehatan reproduksi menurut WHO adalah suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya atau suatu keadaan dimana manusia dapat menikmati kehidupan seksualnya serta mampu menjalankan fungsi dan proses reproduksinya secara sehat dan aman.
Pengertian lain kesehatan reproduksi dalam Konferensi International Kependudukan dan Pembangunan, yaitu kesehatan reproduksi adalah keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial yang utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan fungsi, peran & sistem reproduksi. Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Pengertian sehat disini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau bebas dari kecacatan namun juga sehat secara mental serta sosial kultural (Fauzi., 2008).


b)      Remaja
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), remaja (adolescence) adalah mereka yang berusia 10-19 tahun. Sementara dalam terminologi lain PBB menyebutkan anak muda (youth) untuk mereka yang berusia 15-24 tahun. Ini kemudian disatukan dalam sebuah terminologi kaum muda (young people) yang mencakup 10-24 tahun.Dalam program BKKBN disebutkan bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 10-24 tahun. Menurut Hurlock (1993), masa remaja adalah masa yang penuh dengan kegoncangan, taraf mencari identitas diri dan merupakan periode yang paling berat.
Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh adanya perubahan fisik, emosidan psikis. Masa remaja adalah suatu periode masa pematangan organ reproduksi manusia, dan sering disebut masa peralihan. Masa remaja merupakan periode peralihan dari masa anak ke masa dewasa.

c)      TumbuhKembang Remaja

Tumbuh kembangnya seorang remaja menuju dewasa, berdasarkan kematangan psikososial dan seksual. Semua remaja akan melewati tahapan berikut :
*      Masa remaja awal/dini (early adolescence) : umur 11 – 13 tahun.
Dengan ciri khas : ingin bebas, lebih dekat dengan teman sebaya, mulai berfikir abstrak dan lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya.
*      Masa remaja pertengahan (middle adolescence) : umur 14 – 16 tahun.
Dengan ciri khas : mencari identitas diri, timbul keinginan untuk berkencan, berkhayal tentang seksual, mempunyai rasa cinta yang mendalam.
*      Masa remaja lanjut (late adolescence) : umur 17 – 20 tahun.
Dengan ciri khas : mampu berfikir abstrak, lebih selektif dalam mencari teman sebaya,mempunyai citra jasmani dirinya, dapat mewujudkan rasa cinta, pengungkapan kebebasan diri.
Tahapan ini mengikuti pola yang konsisten untuk masing-masing individu. Walaupun setiap tahap mempunyai ciri tersendiri tetapi tidak mempunyai batas yang jelas, karena proses tumbuh kembang berjalan secara berkesinambungan.Terdapat ciri yang pasti dari pertumbuhan somatik pada remaja, yaitu peningkatan massa tulang, otot, massa lemak, kenaikan berat badan, perubahan biokimia, yang terjadi pada kedua jenis kelamin baik laki-laki maupun perempuan walaupun polanya berbeda.
Memang banyak perubahan pada diri seseorang sebagai tanda keremajaan, namun  seringkali  perubahan  itu  hanya  merupakan  suatu  tanda-tanda  fisik  dan bukan  sebagai  pengesahan  akan  keremajaan  seseorang. Namun  satu  hal  yang pasti,  konflik  yang  dihadapi  oleh  remaja  semakin  kompleks  seiring  dengan perubahan  pada  berbagai  dimensi  kehidupan  dalam  diri  mereka. Untuk  dapat memahami  remaja,  maka  perlu  dilihat  berdasarkan  perubahan  pada  dimensi-dimensi tersebut.
Dimensi Biologis
Pada saat seorang anak memasuki masa pubertas yang ditandai dengan menstruasi pertama pada remaja putri ataupun perubahan suara pada remaja putra, secara biologis dia mengalami perubahan yang sangat besar
Pubertas menjadikan seorang anak tiba-tiba memiliki kemampuan untuk ber-reproduksi.
Pada masa pubertas, hormon seorang menjadi aktif dalam memproduksi dua jenis hormon ( gonadotrophis atau gonadotrophic hormones ) yang berhubungan dengan pertumbuhan yaitu :
*      Follicle-Stimulating Hormone (FSH)
*      Luteinizing Hormone (LH)
Pada anak perempuan, kedua hormon tersebut merangsang pertumbuhan estrogen dan progesteron, dua jenis hormon wanita. Pada anak laki – laki luteinizing hormone yang juga dinamakan interstitial – cell stimulating hormone ( ICSH ) merangsang pertumbuhan testosteron.
Pertumbuhan  secara  cepat  dari  hormon-hormon  tersebut  di  atas  merubah sistem  biologis  seorang  anak. Anak  perempuan  akan  mendapat  menstruasi, sebagai pertanda bahwa sistem reproduksinya sudah aktif. Selain itu terjadi juga perubahan  fisik  seperti  payudara  mulai  berkembang,  dll. Anak  lelaki  mulai memperlihatkan perubahan dalam suara, otot, dan fisik lainnya yang berhubungan dengan  tumbuhnya  hormon  testosterone. Bentuk  fisik  mereka  akan  berubah secara cepat sejak awal pubertas dan akan membawa mereka pada dunia remaja. 
Dimensi Kognitif
Perkembangan kognitif remaja, dalam pandangan Jean Piaget (seorang ahli perkembangan  kognitif)  merupakan  periode  terakhir  dan  tertinggi  dalam  tahap pertumbuhan operasi formal (period of formal operations).
Pada  periode  ini,  idealnya  para  remaja  sudah  memiliki  pola  pikir  sendiri dalam  usaha  memecahkan  masalah-masalah  yang  kompleks  dan  abstrak. Kemampuan berpikir para remaja berkembang sedemikian rupa sehingga mereka dengan  mudah  dapat  membayangkan  banyak  alternatif  pemecahan  masalah beserta  kemungkinan  akibat  atau  hasilnya. Kapasitas  berpikir  secara  logis  dan abstrak  mereka  berkembang  sehingga  mereka  mampu  berpikir  multi-dimensi seperti  ilmuwan. Para  remaja  tidak  lagi  menerima  informasi  apa  adanya,  tetapi mereka  akan  memproses  informasi  itu  serta  mengadaptasikannya  dengan
pemikiran  mereka  sendiri. Mereka  juga  mampu  mengintegrasikan  pengalaman masa lalu dan sekarang untuk ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi, dan rencana  untuk  masa  depan. Dengan  kemampuan  operasional  formal  ini,  para remaja mampu mengadaptasikan diri dengan lingkungan sekitar mereka.
Pada kenyataan, di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) masih sangat  banyak  remaja  (bahkan  orang  dewasa)  yang  belum  mampu  sepenuhnya mencapai  tahap  perkembangan  kognitif  operasional  formal  ini. Sebagian  masih tertinggal  pada  tahap  perkembangan  sebelumnya,  yaitu  operasional  konkrit, dimana  pola  pikir  yang  digunakan  masih  sangat  sederhana  dan  belum  mampu melihat  masalah  dari  berbagai  dimensi. Hal  ini  bisa  saja  diakibatkan  sistem pendidikan  di  Indonesia  yang  tidak  banyak  menggunakan  metode  belajar-mengajar satu arah (ceramah) dan kurangnya perhatian pada pengembangan cara berpikir  anak.
Penyebab  lainnya  bisa  juga  diakibatkan  oleh  pola  asuh  orangtua yang cenderung masih memperlakukan remaja sebagai anak – anak, sehingga anak tidak  memiliki  keleluasan  dalam  memenuhi  tugas  perkembangan  sesuai  dengan usia  dan  mentalnya.Semestinya,  seorang  remaja  sudah  harus  mampu  mencapai tahap  pemikiran  abstrak  supaya  saat  mereka   lulus  sekolah  menengah,  sudah terbiasa berpikir kritis dan mampu untuk menganalisis masalah dan mencari solusi terbaik.
Dimensi Moral
Masa  remaja  adalah  periode  dimana  seseorang  mulai  bertanya-tanya mengenai berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai dasar bagi  pembentukan  nilai  diri  mereka. Elliot  Turiel  (1978)  menyatakan  bahwa para  remaja  mulai  membuat  penilaian  tersendiri  dalam  menghadapi  masalah-masalah  populer  yang  berkenaan  dengan  lingkungan  mereka,  misalnya: politik, kemanusiaan,  perang,  keadaan  sosial,  dsb.
Remaja tidak lagi menerima hasil pemikiran yang kaku, sederhana, dan absolut yang diberikan pada mereka selama ini tanpa bantahan. Remaja mulai mempertanyakan keabsahan pemikiran yang ada dan mempertimbangkan lebih banyak alternatif lainnya. Secara kritis, remaja akan lebih banyak melakukan pengamatan keluar dan membandingkannya dengan hal – hal yang selama ini diajarkan dan ditanamkan kepadanya.

Sebagian besar para remaja mulai melihat adanya kenyataan lain di luar dari yang selama ini diketahui dan dipercayainya. Ia akan melihat bahwa ada banyak aspek dalam melihat hidup dan beragam jenis pemikiran yang lain.Baginya  dunia  menjadi lebih luas dan seringkali membingungkan, terutama jika ia terbiasa dididik dalam suatu lingkungan tertentu saja selama masa kanak-kanak.
Kemampuan berpikir dalam dimensi moral (moral reasoning) pada remaja berkembang  karena  mereka  mulai  melihat  adanya  kejanggalan  dan ketidakseimbangan  antara  yang  mereka  percayai dahulu  dengan  kenyataan  yang ada di sekitarnya.Mereka lalu merasa perlu mempertanyakan dan merekonstruksi pola  pikir  dengan  “kenyataan”  yang  baru. Perubahan  inilah  yang  seringkali mendasari  sikap  "pemberontakan"  remaja  terhadap  peraturan  atau  otoritas  yang selama  ini  diterima  bulat-bulat. Misalnya,  jika  sejak  kecil  pada  seorang  anak diterapkan sebuah nilai moral yang mengatakan bahwa korupsi itu tidak baik. Pada  masa  remaja  ia  akan  mempertanyakan  mengapa  dunia  sekelilingnya membiarkan korupsi itu tumbuh subur bahkan sangat mungkin korupsi itu dinilai baik dalam suatu kondisi tertentu. Hal ini tentu saja akan menimbulkan konflik nilai  bagi  sang  remaja. Konflik  nilai  dalam  diri  remaja  ini  lambat  laun  akan menjadi  sebuah  masalah  besar,  jika  remaja  tidak  menemukan  jalan keluarnya. Kemungkinan  remaja  untuk  tidak  lagi  mempercayai  nilai-nilai  yang ditanamkan  oleh  orangtua  atau  pendidik  sejak  masa  kanak-kanak   akan  sangat besar  jika  orangtua  atau  pendidik  tidak  mampu  memberikan  penjelasan  yang logis,  apalagi  jika  lingkungan  sekitarnya  tidak  mendukung  penerapan  nilai-nilai tersebut.
Peranan orangtua atau pendidik amatlah besar dalam memberikan alternatif jawaban  dari  hal-hal  yang  dipertanyakan  oleh  putra-putri  remajanya. Orangtua yang bijak akan memberikan lebih dari satu jawaban dan alternatif supaya remaja itu  bisa  berpikir  lebih  jauh  dan  memilih  yang  terbaik. Orangtua  yang  tidak mampu  memberikan  penjelasan  dengan  bijak  dan  bersikap  kaku  akan  membuat yang  remaja  tambah  bingung.

Remaja tersebut akan mencari jawaban di luar lingkaran orangtua dan yang dianutnya. Ini bisa menjadi berbahaya jika lingkungan baru memberi jawaban yang tidak diinginkan atau bertentangan dengan yang diberikan oleh orangtua, konflik dengan orangtua mungkin akan mulai menajam.
Dimensi Psikologis
Masa  remaja  merupakan  masa  yang   penuh  gejolak.  Pada  masa  ini  mood (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Hasil penelitian di Chicago oleh  Mihalyi  Csikszentmihalyi  dan  Reed  Larson  (1984)  menemukan  bahwa  remaja rata-rata  memerlukan  hanya  45  menit  untuk  berubah  dari  mood  “senang  luar biasa” ke  “sedih luar biasa”, sementara orang dewasa memerlukan beberapa jam untuk hal yang sama.  Perubahan mood (swing) yang drastis pada para remaja ini seringkali dikarenakan  beban pekerjaan  rumah,  pekerjaan sekolah, atau  kegiatan sehari-hari  di  rumah. Meski  mood  remaja  yang  mudah  berubah-ubah  dengan cepat, hal tersebut belum tentu merupakan gejala atau masalah psikologis.
Dalam hal kesadaran diri, pada  masa remaja para remaja mengalami perubahan yang  dramatis  dalam  kesadaran  diri  mereka  (self-awareness).   Mereka  sangat rentan terhadap pendapat orang lain karena mereka menganggap bahwa orang lain sangat mengagumi atau selalu mengkritik mereka seperti mereka mengagumi atau mengkritik  diri  mereka  sendiri.   Anggapan  itu  membuat  remaja  sangat memperhatikan  diri  mereka  dan  citra  yang  direfleksikan  (self-image).  Remaja
cenderung  untuk  menganggap  diri  mereka  sangat  unik  dan  bahkan  percaya keunikan mereka akan  berakhir dengan  kesuksesan  dan  ketenaran. Remaja  putri akan bersolek berjam-jam di hadapan cermin karena ia percaya orang akan melirik dan  tertarik  pada  kecantikannya,  sedang  remaja  putra  akan  membayangkan dirinya dikagumi lawan jenisnya jika ia terlihat unik dan “hebat”. 
Pada  usia  16  tahun  ke  atas,  keeksentrikan   remaja  akan  berkurang  dengan sendirinya jika ia sering dihadapkan dengan dunia nyata.  Pada saat itu, Remaja akan  mulai  sadar  bahwa  orang  lain  tenyata  memiliki  dunia  tersendiri  dan  tidak selalu  sama  dengan  yang  dihadapi  atau  pun  dipikirkannya.  Anggapan  remaja bahwa  mereka  selalu  diperhatikan  oleh  orang  lain  kemudian  menjadi  tidak berdasar.   Pada saat inilah, remaja mulai dihadapkan dengan realita dan tantangan untuk menyesuaikan impian dan angan-angan mereka dengan kenyataan.
Para  remaja  juga  sering  menganggap  diri  mereka  serba  mampu,  sehingga seringkali  mereka  terlihat  “tidak  memikirkan  akibat”  dari  perbuatan  mereka.  Tindakan  impulsif  sering  dilakukan;  sebagian  karena  mereka  tidak  sadar  dan belum  biasa  memperhitungkan  akibat  jangka  pendek  atau  jangka  panjang.
Remaja  yang  diberi  kesempatan  untuk  mempertangung-jawabkan  perbuatan mereka,  akan  tumbuh  menjadi  orang  dewasa  yang  lebih  berhati-hati,  lebih percaya-diri,  dan  mampu  bertanggung-jawab.   Rasa  percaya  diri  dan  rasa tanggung-jawab  inilah  yang  sangat  dibutuhkan  sebagai  dasar  pembentukan  jati-diri positif pada remaja.  Kelak, ia akan tumbuh dengan penilaian positif pada diri sendiri dan rasa hormat pada orang lain dan lingkungan.  Bimbingan orang yang lebih  tua  sangat  dibutuhkan  oleh  remaja  sebagai  acuan  bagaimana  menghadapi masalah  itu  sebagai  “seseorang  yang  baru”;  berbagai  nasihat  dan  berbagai  cara akan  dicari  untuk  dicobanya.   Remaja  akan  membayangkan  apa  yang  akan dilakukan  oleh  para  “idola”nya  untuk  menyelesaikan  masalah  seperti  itu. 
Pemilihan idola ini juga akan menjadi sangat penting bagi remaja Dari  beberapa  dimensi  perubahan  yang  terjadi  pada  remaja  seperti  yang telah dijelaskan diatas maka terdapat kemungkinan – kemungkinan perilaku yang bisa terjadi pada masa ini. Diantaranya adalah perilaku yang mengundang resiko dan  berdampak  negative  pada  remaja.  Perilaku  yang  mengundang  resiko  pada masa  remaja  misalnya  seperti  penggunaan  alcohol,  tembakau  dan  zat  lainnya;
Aktivitas social yang berganti – ganti pasangan dan perilaku menentang bahaya seperti balapan, selancar udara, dan layang gantung (Kaplan dan Sadock, 1997). Alasan  perilaku  yang  mengundang  resiko  adalah  bermacam  –  macam  dan berhubungan  dengan  dinamika  fobia  balik  (  conterphobic  dynamic  ),  rasa  takut dianggap  tidak  cakap,  perlu  untuk  menegaskan identitas maskulin  dan  dinamika kelompok seperti tekanan teman sebaya.

d)     Salah satu masalah remaja yang mempengaruhi kesehatan reproduksi

MEROKOK
Di  masa  modern  ini,  merokok merupakan  suatu  pemandangan  yang  sangat tidak asing. Kebiasaan merokok dianggap dapat memberikan kenikmatan bagi si perokok, namun dilain pihak dapat menimbulkan dampak buruk bagi si perokok sendiri maupun orang – orang disekitarnya. Saat ini banyak sekali remaja yang merokok bahkan tidak hanya satu batang rokok saja tetapi berbatang – batang mereka hisap seakan hal itu sudah menjadi kebutuhan pokok bagi mereka, padahal berbagai kandungan zat yang terdapat di dalam rokok memberikan dampak negatif  bagi tubuh mereka.
Beberapa motivasi yang melatar belakangi remaja untuk merokok biasanya hanyalah untuk mendapat  pengakuan  (anticipatory  beliefs),  untuk  menghilangkan  kekecewaan  ( reliefing beliefs), dan menganggap perbuatannya tersebut tidak melanggar norma ( permissive beliefs/ fasilitative) (Joewana, 2004).
Hal ini sejalan dengan kegiatan merokok yang dilakukan oleh remaja yang biasanya dilakukan didepan orang lain, terutama dilakukan di depan kelompoknya karena mereka sangat tertarik kepada kelompok sebayanyaatau dengan kata lain terikat dengan kelompoknya.
Perilaku merokok merupakan pola perilaku dan favorit di kalangan pelajar maupun mahasiswa, bahkan hasil survey menunjukkan bahwa sebagian besar perokok di Indonesia adalah kalangan pemuda dan pelajar (baik di tingkat mahasiswa, SMP ataupun di tingkat SMU, dan seringkali ditemui juga anak-anak SD sudah merokok).Mereka tidak sadar akan bahaya rokok untuk tubuhnya sendiri, tetapi ada sebagian mereka yang mengetahui dampak rokok itu sendiri bagi  tubuhnya tetap tidak memperdulikan karna kurangnya kesadaran dan pengertian mengenai dampak rokok itu sendiri. Dampak dari merokok tidak hanya berakibat pada kesehatan pernafasannya namun dampak merokok juga akan mempengaruhi kesehatan reproduksinya, Gangguan kesehatan reproduksi yang disebabkan oleh kebiasaan merokok berbeda antara pria dan wanita. Menurut penelitian, dalam buku 1440 alasan berhenti merokok yang ditulis oleh bill godds (2008), ternyata yang akan menerima efek negatif dari rokok tersebut bukan hanya perokok aktif saja, akan tetapi perokok pasif pun akan menerima akibat negatif dari rokok tersebut. Dan justru efek yang diterima oleh perokok pasif akan jauh lebih berbahaya lagi ketimbang perokok aktifnya.
Perokok pasif merupakan sebuah istilah bagi seseorang yang sebenarnya bukan seorang perokok akan tetapi orang yang berada atau dekat dengan orang-orang yang merokok sehingga ia secara tidak langsung sering menghirup asap rokok yang dikeluarkan oleh para perokok aktif (Husaini, 2007).
Indonesia masuk dalam daftar tiga besar negara dengan perokok terbesar di dunia setelah India dan China. Tak hanya fakta ini yang memprihatinkan, tetapi juga bahwa perokok wanita juga semakin besar jumlahnya. Yakni naik 10 kali lipat selama tiga tahun terakhir. Saat ini jumlah perokok di Indonesia sebesar 65 juta, dengan lima persennya adalah wanita. Sementara jumlah perokok pasif di Indonesia juga tinggi sebanyak 50 juta, dan kebanyakan dari mereka  adalah wanita (Arief, 2011).
Menurut data hasil Global Adult Tobacco Survey (2011 dalam Depkes RI, 2012) mengungkapkan persentase perokok aktif pria di Indonesia mencapai 67% dan wanita 2.7% dari jumlah penduduk.
Rokok memberikan ancaman kesehatan terutama dari asap rokok bagi perokok aktif maupun pasif dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, terutama kesehatan reproduksi. Gangguan pada wanita perokok terkait dengan kesehatan reproduksinya antara lain gangguan haid, menopause dini, sulit untuk hamil, kehamilan diluar kandungan, keguguran dan timbulnya kecacatan pada janin (Emiriana, 2007).
Menurut Yoga,  (2010 dalam Depkes, 2010) gangguan kesehatan pada wanita perokok tidak hanya gangguan reproduksi saja, penyakit kanker juga dipengaruhi oleh merokok atau terkena paparan asap rokok. Ditambahkan, kankertertinggi yang dideritawanita Indonesia adalah Kanker payudara dengan angk kejadian 26 per 100.000 wanita
Banyak faktor yang menyebabkan remaja putrid merokok, baik faktor internal maupun eksternal. Ini disebabkan karena remaja putrid memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda - beda, baik latar belakang pribadi, keluarga, dansosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana profil remaja putri yang merokok (Andewi, 2007).
PENYEBAB REMAJA MEROKOK
      Aspek atau faktor-faktor yang berhubungan atau yang mempengaruhi kehidupan remaja yaitu Keluarga, sekolah ,dan tetangga merupakan aspek yang secra langsung mempengaruhi kehidupan reamaja.sedangan struktur sosial ,ekonomi, politik ,dan budaya lingkungan merupakan aspek yang memberikan pengarauh secara tidak langsung terhadap kehidupan remaja.
Secara garis besarnya ada dua tekanan pokok yang berhubungan dengan kehidupan remaja yaitu internal pressure (tekanan dari dalam diri remaja) dan external pressure (tekanan dari luar diri remaja)
Tekanan dari dalam (internal pressure) merupakan tekanan psikologis dan emosional. Sedangkan teman sebaya, orang tua guru, dan masyarakat merupakan sumber dari luar (external pressure). Teori ini akan membantu kita memahami masalah yang dihadapi remaja salah satunya adalah masalah kesehatan reproduksi.
Merokok juga salah satu masalah remaja yang mempengaruhi kesehatan reproduksi yang hal tersebut dianggap enteng. Penyebab remaja merokok yaitu :
*      Pengaruh 0rang tua
Salah satu temuan tentang remaja perokok adalah bahwa anak-anak muda yang berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia, dimana orang tua tidak begitu memperhatikan anak-anaknya dan memberikan hukuman fisik yang keras lebih mudah untuk menjadi perokok dibanding anak-anak muda yang berasal dari lingkungan rumah tangga yang bahagia (Baer & Corado dalam Atkinson, Pengantar psikologi, 1999:294).
*      Pengaruh teman.  
Berbagai fakta mengungkapkan bahwa semakin banyak remaja merokok maka semakin  besar  kemungkinan  teman-temannya  adalah  perokok  juga  dan demikian  sebaliknya.  Dari  fakta  tersebut  ada  dua  kemungkinan  yang  terjadi, pertama  remaja  tadi  terpengaruh  oleh  teman-temannya  atau  bahkan  teman-teman  remaja  tersebut  dipengaruhi  oleh  diri  remaja  tersebut  yang  akhirnya mereka  semua  menjadi  perokok.  Diantara  remaja  perokok  terdapat  87% mempunyai  sekurang-kurangnya  satu  atau  lebih  sahabat  yang  perokok  begitu pula dengan remaja non perokok (Al Bachri, 1991)
*      Faktor Kepribadian.       
Orang mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau ingin melepaskan diri dari rasa sakit fisik atau jiwa, membebaskan diri dari kebosanan. Namun satu  sifat  kepribadian  yang  bersifat  prediktif  pada  pengguna  obat-obatan (termasuk  rokok)  ialah  konformitas  sosial.  Orang  yang  memiliki  skor  tinggi pada  berbagai  tes  konformitas  sosial  lebih  mudah  menjadi  pengguna
dibandingkan  dengan  mereka  yang  memiliki  skor  yang  rendah  (Atkinson, 1999).
*      Pengaruh Iklan.
Melihat  iklan  di  media  massa  dan  elektronik  yang  menampilkan  gambaran bahwa  perokok  adalah  lambang  kejantanan  atau  glamour,  membuat remaja seringkali  terpicu  untuk  mengikuti  perilaku  seperti  yang  ada  dalam  iklan tersebut. (Mari Juniarti, Buletin RSKO, tahun IX,1991).
Sedangkan pengaruh rokok terhadap kesehatan reproduksi remaja seringkali tidak diketahuan dan kurangnya informasi membuat mereka kurang mengerti pengaruh merokok bagi kesehatan reproduksi mereka. Rokok mengandung kurang lebih 4000 elemen-elemen, dan sekitar 200 diantaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan, terlebih bagi kesehatan reproduksi. Racun yang utama terdapat pada rokok adalah
*       Arsenik, bahan yang digunakan untuk racun tikus.
*       Asetilena, senyawa kimia tak jenuh yang juga merupakan hidrokarbon alkuna.
*       Sianida, senyawa kimia dari kelompok cyano.
*       Benzene, senyawa kimia organik yang mudah terbakar
*       Cadmium, sebuah logam beracun radioaktif.
*       Metanol, jenis alkohol sederhana (metil alkohol).
*       Formaldehida, cairan yang digunakan untuk mengawetkan mayat.
*       Amonia, sangat beracun dalam kombinasi dengan unsur-unsur tertentu.
*       Hidrogen sianida, zat pembuat plastik dan pestisida, zat ini digunakan juga sebagai fumigan untuk bahan membunuh semut.
*       Tar mengandung 43 bahan kimia yang diketahui menjadi penyebab kanker (karsinogen), zat yang seperti benzopyrene, yaitu sejenis policyclic aromatic hydrocarbon (PAH) yang telah lama ditetapkan seperti agen pencetus awal kejadian kanker.
*       Nikotin adalah zat adiktif yang mempengaruhi syaraf dan peredaran darah. Yang berefek terhadap sistem mesolimbik yang menjadi penyebab ketagihan. Hal tersebut juga merupakan penyebab penyakit jantung, stroke, merusak jaringan otak, mengeraskan dinding arteri dan menyebabkan darah cepat membeku.
*       Karbon Monoksida yaitu gas beracun yang biasanya dikeluarkan oleh kendaraan. yang mempunyai efek mengikat oksigen dalam tubuh sehingga berakibat memicu terjadinya penyakit jantung, zat ini yang mengikat hemoglobin dalam darah, membuat darah tidak mampu mengikat oksigen, sehingga apabila kaadar CO di dalam tubuh melebihi 60 persen maka dapat menyebabkan kematian,
Tidak hanya penyakit paru dan jantung, merokok juga mengganggu kesehatan reproduksi. Pengaruh dari merokok terhadap reproduksi dan kesuburan cukup fatal. Merokok dapat meningkatkan risiko impotensi, kerusakan sperma, mengurangi jumlah sperma dan menyebabkan kanker testis. Sedangkan kebiasaan merokok pada wanita menyebabkan kanker serviks. Zat nikotin serta “racun” lain yang masuk ke dalam darah melalui asap rokok mampu meningkatkan kemungkinan terjadinya kondisi cervical neoplasia atau tumbuhnya sel-sel abnormal pada rahim. Cervical neoplasia adalah kondisi awal berkembangnya kanker serviks di dalam tubuh seseorang.
Menurut Dr. Jones, pria akan mengalami 2 kali resiko terjadi infertil (tidak subur) serta mengalami resiko kerusakan DNA pada sel spermanya. Sedangkan hasil penelitian pada wanita hamil terjadi peningkatan insiden keguguran. Penelitian tersebut mengatakan dari 3000 sampai 5000 kejadian keguguran per tahun di Inggris, berhubungan erat dengan merokok. Tidak hanya itu, merokok juga menghambat pertumbuhan intra rahim, meningkatkan stillbirth (lahir mati) dan kelahiran prematur.
Selain itu merokok dapat menurunkan kualitas cairan semen. Berbagai penelitian tentang efek merokok terhadap kesehatan reproduksi pria telah menunjukkan penurunan kualitas cairan semen efek tersebut diantaranya :

*      Konsentrasi sperma. Konsentrasi sperma mengacu pada jumlah sperma yang ditemukan dalam jumlah yang diukur dari air mani. Studi telah menunjukkan penurunan 23% dalam konsentrasi sperma pada pria yang merokok.
*      Motilitas sperma.  Motilitas sperma mengacu pada kemampuan berenang sperma. Jika sperma tidak bisa berenang dengan baik, mereka mungkin memiliki kesulitan mencapai sel telur.  Pada pria yang merokok, para peneliti menemukan penurunan 13% dalam motilitas sperma.
*      Morfologi sperma. Morfologi sperma mengacu pada bentuk sperma. Sprema yang mempunyai bentuk aneh (tidak seperti normal) tidak bisa berenang cukup baik untuk sampai ke telur dan mungkin tidak dapat membuahi sel telur. Perokok laki-laki memiliki sperma lebih sedikit berbentuk sehat daripada non-perokok.
Perokok laki-laki mungkin juga memiliki kelainan hormonal yang bisa juga mempengaruhi kesuburan. Namun demikian, penurunan kesehatan sperma dan kelainan hormonal saja mungkin tidak cukup untuk menyebabkan kemandulan pada pria. Namun bagi pria yang tanda infertilitasnya sudah hampir jelas, maka dengan merokok bisa mengakibatkan infertilitas lebih pasti lagi. Untuk laki-laki seperti ini, berhenti merokok dapat meningkatkan kesuburan mereka atau setidaknya, meningkatkan peluang keberhasilan mereka pada perawatan kesuburan.
Dampak bagi laki – laki selain menurunkan Reproduksi dan Fertilitas: Pengaruh dari merokok terhadap reproduksi dan kesuburan cukup fatal. Merokok dapat meningkatkan risiko impotensi, kerusakan sperma, mengurangi jumlah sperma dan menyebabkan kanker testis
Ganguan yang dialami remaja perempuan diantaranya :
*      Ganguan Pada Menstruasi
Nikotin juga menjadi penyebab timbulnya gangguan haid pada wanita perokok karena mempengaruhi metabolisme hormon estrogen yang tugasnya mengatur proses haid. Gangguan metabolisme akan menyebabkan haid tidak teratur dan pada wanita perokok akan mengalami nyeri perut yang lebih berat ketika haid.
*      Kanker Payudara
Secara anatomi tubuh, wanita memiliki resiko lain akibat rokok kanker payudara. Karena peningkatan akumulasi toksin larut lemak dan potensial hormon karsinogenik dalam jaringan lemak.
Pada kanker payudara, peneliti mengungkapan bahwa akibat perempuan merokok tidak berhubungan secara langsung dalam kasus kanker payudara. Tetapi merokok memperbesar peluang bagi wanita perokok mengalami penyakit ini hingga 60% lebih besar dibanding mereka yang tidak merokok.
Tembakau juga bisa memperbesar resiko perkembangan lesi prakanker leher rahim.
*      Kehamilan Ektopik
Gangguan pada proses pelepasan sel telur meningkatkan resiko wanita perokok untuk mengalami kehamilan di luar kandungan sekitar 2-4 kali lebih tinggi dibandingkan dengan wanita bukan perokok. Kehamilan ektopik meningkat sebesar 1,6 – 3,5 kali dibandingkan wanita yang tidak merokok. Nikotin dapat menyebabkan gangguan pematangan pada sel telur sehingga sulit terjadi kehamilan.
*      Menopause dini
Perokok mencapai menopause sekitar 14 bulan lebih awal dibanding bukan perokok. Mereka yang suami merokok, membuat lima bulan sebelumnya, meskipun hal ini tidak melebihi analisis statistik yang cukup untuk menunjukkan efek yang pasti. Tapi ketika orang tua merokok ketika mereka berada dalam rahim, para wanita telah berhenti haid sekitar 13 bulan lebih awal dari mereka dengan orang tua merokok.Karena kurangnya oksigenasi kulit, perokok wanita akan mengalami kulit kusam. Efek lain, kulit akan menjadi kendur dan tidak elastis.Tembakau juga bisa menyebabkan keriput muncul sebelum waktunya, berkisar dari 10 sampai 20 tahun lebih awal.
*      Sulit untuk hamil
Nikotin dapat menyebabkan gangguan pematangan pada sel telur sehingga sulit terjadi kehamilan.
*      Keguguran
Secara logis bisa dipahami, bila pembelahan sel-sel mengalami gangguan karena nikotin yang masuk ke dalam darah, dengan sendirinya terhambat pula pertumbuhan janin. Akibatnya, bisa terjadi keguguran
*      Timbulnya kecacat seperti bibir sumbing, hidung pipih atau berat badan kurang pada bayi.
*      Dismenore dan peningkatan frekuensi amenore sekunder
Gangguan metabolisme akan menyebabkan haid tidak teratur dan pada wanita perokok akan mengalami nyeri perut yang lebih berat ketika haid, Merokok mengurangi sekresi estrogen yang diduga bertanggung jawab atas gangguan menstruasi termasuk timbulnya rasa nyeri.
*      ketuban pecah dini, plasenta previa, kematian neonatal, keputihan yang tidak biasa
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan kesehatan yang sempurna baik secara fisik, mental, dan sosial dan bukan semata-mata terbebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya.
Banyak yang mempengaruhi kesehatan reproduksi, salah satunya adalah merokok. Merokok membawa dampak buruk bagi kesehatan reperoduksi, diataranya adalah meningkatkan risiko impotensi, kerusakan sperma, mengurangi jumlah sperma dan menyebabkan kanker testis. Tidak hanya itu, bila rokok dikonsumsi oleh kaum perempuan akan menyebabkan kanker serviks, pertumbuhan intra rahim, meningkatkan stillbirth (lahir mati) dan kelahiran prematur. Untuk menangani masalah ini, perlu perhatian khusus. Perhatian dari orang tua, petugas kesehatan dan pemerintah sangat diperlukan. Namun yang lebih penting adalah kesadaran dari individu sendiri

B.     Saran

Kesehatan adalah segalanya bagi kehidupaan. Kesehataan sangat penting, oleh karena itu kita harus sadar betul untuk semaksimal mungkin menajaga kesehatan kita. Bagi petugas kesehatan diharapkan mampu memberi sosialisasi bagi masyarakat khususnya remaja. Peran pemerintah dalam mengatur pemakaian dan pemjualan rokok harus lebih tegas. Seperti yang disebutkan dalam RUU tentang Penanggulangan Dampak Tembakau bagi Kesehatan bahwa penjualan rokok tidak boleh memajang rokok di etalase toko. Namun pada kenyataannya masih banyak yang memajang rokok di etalase meraka. Bahkan di swalayan pun masih banyak pajangan rokok di etalase. Pemerintah jangan hanya membuat peraturan saja, namun harus tegas dalam bertindak. Tetapi kesadaran untuk tidak merokok harus diniatkan diri diri sendiri.



DAFTAR PUSTAKA

*      Mukhatib MD. 2009. Problem Kesehatan Reproduksi Remaja: Tawaran Solusi, disampaikan pada Seminar Nasional Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi Remaja di PP.
*      http://KesehatanReproduksi/KesehatanReproduksiDewasa/KesehatanReproduksiRemaja/creasoft @8:25am.com.online 
*      YPKP. 2006. Modul Mahasiswi Kesehatan Reproduksi. Jakarta : YPKP
 
Copyright (c) 2010 Midwife Putry salju. Design by WPThemes Expert

Themes By Buy My Themes and Direct Line Insurance.